 © pencariantaksemudahdiduga™ 2011  pencarian tak semudah diduga: March 2015

Sunday, March 29, 2015

Kisah Cinta Salman Al-Farisi


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang
dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil
tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah
pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan
pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat
kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki
adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia
berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang
pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi
Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak
hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa
cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru
tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang
Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang
utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai
beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili
saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud
Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua,
shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini
bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak
jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi
isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan
segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata
sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang
datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami
menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki
urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah.
Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu
mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu
alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan
persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu
yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang
belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia
bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan
ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!”
???

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki
apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran
tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih,
merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa
dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah,
dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang
yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang
kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

copas dari kisah.web.id

Saturday, March 28, 2015

Penyakit Wahn

Orang yang diberikan nikmat
dunia sering terlalai dan
terleka sehingga hati mereka
terikat kepada kenikmatan
dunia dan cintakan dunia.
Cinta dunia atau hubbu al-
Dunya bermaksud perasaan
hati yang sentiasa terikat
dengan dunia sehingga urusan
berkaitan dengan memalingkan
meraka dari Allah swt dan
kewajipan terhadapnya .
Rasulullah s.a.w menerangkan
bertapa sikap cinta dunia ini
amat merbahaya dalam
;hadisnya
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ : « ﻳﻮﺷﻚُ
ﺍﻷُﻣَﻢُ ﺃﻥْ ﺗَﺪَﺍﻋَﻰ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻛﻤﺎ
ﺗَﺪَﺍﻋَﻰ ﺍﻷَﻛَﻠﺔُ ﺇﻟﻰ ﻗَﺼْﻌَﺘِﻬﺎ،
ﻓﻘﺎﻝ ﻗﺎﺋﻞ : ﻣﻦ ﻗِﻠَّﺔ ﻧﺤﻦ
ﻳﻮﻣﺌﺬ ؟ ﻗﺎﻝ : ﺑﻞ ﺃﻧﺘﻢ
ﻳﻮﻣﺌﺬ ﻛﺜﻴﺮ، ﻭﻟﻜﻨَّﻜﻢ ﻏُﺜﺎﺀ
ﻛَﻐُﺜَﺎﺀِ ﺍﻟﺴَّﻴْﻞِ، ﻭﻟَﻴَﻨْﺰِﻋَﻦَّ ﺍﻟﻠﻪ
ﻣِﻦْ ﺻﺪﻭﺭ ﻋﺪﻭِّﻛﻢ ﺍﻟﻤﻬﺎﺑﺔَ
ﻣﻨﻜﻢ، ﻭﻟﻴﻘﺬﻓﻦَّ ﻓﻲ
ﻗُﻠُﻮﺑﻜﻢ ﺍﻟﻮَﻫْﻦَ، ﻗﻴﻞ : ﻭﻣﺎ
ﺍﻟﻮْﻫﻦُ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ :
ﺣُﺐُّ ﺍﻟﺪُّﻧﻴﺎ، ﻭﻛﺮﺍﻫﻴَﺔُ ﺍﻟﻤﻮﺕِ »
ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ
Maksudnya; Akan datang masa
di mana kamu diperebutkan
oleh bangsa-bangsa lain
sebagaimana orang-orang
berebut melahap makanan dari
bekasnya." Para sahabat
bertanya, "Apakah kerana ketika
itu kami sedikit Wahai
Rasulallah?" Rasulullah
bersabda, "Tidak, bahkan ketika
itu sangat ramai tetapi seperti
buih di lautan kerana kamu
tertimpa penyakit 'wahn'."
Sahabat bertanya, "Apakah
penyakit "wahn" itu ya
Rasulallah?" Beliau menjawab,
"Penyakit "wahn" itu adalah
terlalu cinta dunia dan takut
".mati

Friday, March 27, 2015

Potret


Terangi malam ku dengan syair indah mu
Merenung kasih dalam sepi yang terasing
Saat kau pergi, lemas ku bila tiada mu
Jauh terbawa lukisan hatimu
Hilang mencari di mana kau pergi
Tinggal aku menahan luka ini
Sampai harus ku pergi
Engkau bagaikan bintang-bintang di angkasa
Hanya mampu melihat kamu yang terbiar
Walaupun sakit, walaupun pedih tak berdaya
Berjalan tenang menghampiri persisiran
Melakar namamu di sisi pasir pantai
Pastinya hilang, tidak rasaku kepadamu
Jauh terbawa lukisan hatimu
Hilang mencari di mana kau pergi
Tinggal aku menahan luka ini
Sampai harus ku pergi
Jauh terbawa lukisan hatimu
Warna pelangi hiasan terindah
Hati ini tak akan terbahagi
Sampai harus ku pergi
Menuju aku kepadamu jadi satu
Meraih kasih kita
Jauh terbawa lukisan hatimu
Hilang mencari di mana kau pergi
Tinggal aku menahan luka ini
Sampai harus ku pergi
Jauh terbawa lukisan hatimu
Warna pelangi hiasan terindah
Hati ini tak akan terbahagi
Sampai harus ku pergi

https://www.youtube.com/watch?v=dMA8hM2qrHA

Lirik Lagu : Potret
Artis : Akim & The Majistret
Album : Single (2015)

Monday, March 02, 2015

Sharing Ust Salim A Fillah

“Ya Rasulallah”, begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, “Ceritakanlah tentang dirimu.”

Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab dengan beberapa kalimat. 

Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim, ‘Alaihissalam..”

Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun.

Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi  hanya dihuni Isma’il dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya.

Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak-cucu. 

Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.
Salim A Fillah
back to top Twitter Bird Gadget